Pantai Karang Hawu ( Sukabumi )

PANTAI Karanghawu yang terletak di Desa Cikakak, Kec. Cisolok, Kab. Sukabumi, selama ini dikenal karena kisah mistisnya. Pantai yang berjarak sekitar 73 kilometer dari Kota Sukabumi itu dengan koordinat 6°57,29′S 106°27,611′E , dipercaya sebagian masyarakat sebagai lokasi bagi singgasana Lara Kadita, Putri Prabu Siliwangi atau yang lebih populer dengan Nyi Roro Kidul. Sebagian lagi menyebutnya Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Blorong.
Persisnya, singgasananya terletak di atas bukit karang yang menjorok ke lautan lepas Samudra Hindia. Di bukit karang itulah Nyi Roro Kidul diyakini pernah menyendiri dan bertapa. Cerita legenda tersebut tak hanya berkembang di masyarakat Sunda, tapi juga konon dipercaya presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Konon, Sang Proklamator itu pernah bertapa di patilasan Nyi Roro Kidul.
Dalam cerita rakyat Sunda disebutkan, Nyi Roro Kidul atau Putri Lara Kadita adalah putri kesayangan dan paling dicinta ayahnya, Prabu Siliwangi. Selain dikagumi karena kecantikan parasnya, sang putri juga dikenal berbudi halus. Kecantikan dan kasih sayang berlebih itulah yang kemudian menimbulkan rasa iri dan dengki para selir Prabu Siliwangi. Puncaknya, para selir itu mengirim sihir sehingga sang putri menderita penyakit kulit yang tak ada obatnya.
Sang putri pun terusir dari istananya dan berjalan menuju ke arah selatan hingga ke puncak bukit Karanghawu untuk kemudian bertapa. Dalam tapanya, sang putri mendapat wangsit untuk terjun ke laut selatan (Samudra Hindia) agar sakitnya pulih dan menjadi manusia sakti. Karena kesaktiannya itulah, sang putri kemudian menjadi penguasa Laut Selatan dan berjuluk Ratu Laut Selatan atau Kanjeng Ratu Kidul.

Berbentuk tungku

Karang dan tebing yang menjorok ke laut hingga kini masih menjadi ciri khas panorama alam di pantai Karanghawu. Disebut Karanghawu karena di areal pantai ini terdapat sebuah karang yang menjorok ke laut dan berlubang di beberapa bagiannya yang membentuk seperti tungku (yang dalam bahasa Sunda disebut hawu).
Meski suasana magis Nyi Roro Kidul masih menjadi bagian dari objek wisata pantai Karanghawu, hanya sedikit wisatawan yang datang karena tertarik dengan legenda tersebut. Pesona alam pantai Karanghawu dengan debur ombaknya saat membentur tebing karang lebih menantang untuk dinikmati.
Belum lagi bila petang menjelang, kawanan kelelawar dari arah Gunung Halimun berarak di langit. Selain itu, gugusan perbukitan Winarum dan Rahayu yang rimbun ditumbuhi pohon damar dan kiara dengan burung kedasih dan ketilangnya, menciptakan suasana sejuk dan menyegarkan.
Pantai Karanghawu menawarkan panorama alam yang sangat eksotik, dengan udaranya yang sejuk, karang-karang memagari pantai, serta hamparan pasirnya yang luas dan lembut. Selain menawarkan wisatawan bisa melakukan aktivitas berenang dan memancing yang sering dilakukan setiap pagi dan menjelang sore, sejumlah pengunjung juga melakukan aktivitas berselancar (surfing).
“Berselancar umumnya hanya dilakukan orang-orang bule, biasanya antara jam delapan pagi sampai jam sebelasan, setelah itu hanya berjemur-jemur dan kembali ke hotel,” ujar Ayi, salah seorang petugas parkir di objek wisata Karanghawu,
Kawasan objek wisata Karanghawu selama ini dikenal sebagai daerah transit bagi pengunjung yang beristirahat melepas lelah seusai melakukan perjalanan panjang dari daerah Banten Kidul, Bayah, Cikotok Padeglang, dan lainnya ke arah Sukabumi atau Bogor.
Di puncak Winarum terdapat makam dan petilasan yang dikeramatkan, yaitu makam Syeh Hasan Ali, seorang ulama besar dan cukup terkenal di daerah Sukabumi. Seorang ulama yang memimpin pertemuan membangun siasat penyebaran agama Islam di daerah selatan. Sementara itu, di puncak bukit Rahayu terdapat makam seorang tokoh penyebar agama Islam yang bernama Raden Dikudratullah dan Raden Cengkal, keduanya adalah keturunan dari Sunan Gunung Jati.
Hal yang sangat menarik dari kedua bukit karang yang berada di bibir pantai tersebut adalah keberadaan mata air tawar. Banyak pengunjung yang memanfaatkan air itu untuk mandi atau membasuh mukanya karena hal itu diyakini dapat membawa berkah.
Sebenarnya, banyak pemandangan alam yang bisa dinikmati saat berkunjung ke pantai Karanghawu. Bahkan saat alam tidak bersahabat seperti sekarang, Karanghawu tetap dikunjungi banyak orang, terutama untuk sekadar menikmati ombak besar yang menghantam karang dan menciptakan bunyi yang cukup keras. “Saat seperti sekarang inilah kita merasakan kebesaran ciptaan Allah SWT. Di hadapannya, kita merasa kecil dan tak berdaya,” ujar Mahmud Ali, pengunjung asal Tangerang.
Ya, di pantai Karanghawu tidak hanya ada patilasan Nyi Roro Kidul, tetapi juga banyak keindahan alam yang bisa dijadikan kita untuk lebih mensyukuri nikmat dan menemukan kebesaran Sang Pencipta.

This slideshow requires JavaScript.


http://disparbud.jabarprov.go.id/

About these ads

, ,

  1. #1 by yadis9 on 13 April 2011 - 13:37

    Kebetulan saya belum pernah ke sini

  2. #2 by Ivan Juniar Saputra on 21 Oktober 2011 - 19:23

    pantai urang.kudu di jaga ulah di rurusak komo deui di curat coret mah.ulah pisan.pantai karang hawu objek wisata aset kabupaten sukabumi.kudu di jaga.
    kudu maju,tingkatkeun objek wisata sukabumi,pelabuhan ratu.

  3. #4 by ahmad waryono,cirebon on 23 November 2012 - 22:04

    hari sabtu,18 nov 2012,aku,istriku,dan anaku yg br brusia 2th,tamasya ke pntai kr hawu skbm.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: