Museum Sri Baduga

Kenapa namanya Sri Baduga ? Ternyata Sri Baduga itu nama raja tepatnya nama lengkapnya adalah Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata), mengawali pemerintahan zaman Pajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (14821521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.

Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima tahta Kerajaan Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima tahta kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengan gelar Sri Baduga Maharaja di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah “sepi” selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari Timur ke Barat.

Nah di Jawa Barat nama Sri Baduga lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi .

Peresmian penggunaan Museum Negeri Jawa Barat dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI , Dr. DAUD JOESOEF didampingi oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Barat H. Aang Kunaefi. Pada tanggal 1 April 1990, sepuluh tahun setelah peresmian digunakan nama Sri Baduga Raja yang memerintah di Pajajaran. Pada era Otonomi Daerah (OTDA) berdasarkan Perda No.5 Tahun 2002 sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) bergabung dengan Dinas Kebudayaan Propisi Jawa  Barat dengan nama Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga hingga sekarang.

Koleksi yang disajikan sebanyak 6600 dengan rincian sebagai berikut :

1.   Geologika / Geografika 79 buah dan 3 set;
2.   Biologika 180 buah dan 1 set;
3.   Etnografika 2420 buah, 179 set, 20 stel dan 9 pasang;
4.   Arkeologika 953 buah dan 3 set;
5.   Historika 16 buah, 6 set dan 3 stel;
6.   Numismatika/ Heraldika 1705 buah;
7.   Filologika 145 buah;
8.   Keramologika 599 buah dan 1 set;
9.   Senirupa 134 buah dan 2 pasang;
10. Teknologika 115 buah dan 27 set.
Pameran

Mengenai Pameran, di Sri Baduga terbagi dua yaitu pameran tetap dan pameran khusus/temporer.

Pameran tetap adalah merupakan bentuk tata pameran benda koleksi pada sebuah museum yang setiap hari terbuka untuk pengunjung. Penataan ulang hanya dilakukan dalam periode waktu paling cepat 4-5 tahun. Kegiatan tata ulang pameran ini disebut renovasi. Kegiatan renovasi ini dilakukan untuk merubah tata pameran serta merotasi koleksi yang dipamerkan dengan harapan dapat meningkatkan apresiasi terhadap tinggalan bukti material manusia dan lingkungannya, serta menghindarkan kebosanan bagi pengunjung.

Pameran tetap terdiri dari :
1. Lantai 1 mengenai sejarah alam dan religi.
2. Lantai 2 mengenai koleksi yang mengandung unsur dari 4(empat) kelompok kebudayaan.
3. Lantai 3 mengenai oleksi yang mengandung unsur Mata pencaharian, Teknologi, Kesenian, Pojok Sejarah Perjuangan Bangsa, Pojok Wawasan Nusantara dan Pojok Bandung Tempo Dulu.

Pameran khusus / temporer adalah pameran yang diselenggarakan oleh Museum Sri Baduga atau pameran bersama dengan museum lain dalam jangka waktu tertentu. Waktu penyelenggaraan Pameran Temporer berlangsung minimal selama 10 hari, maksimal berlangsung selama 30 hari.

Pameran khusus terdiri dari :

1. Pameran Lokal/keliling
adalah pameran yang diselenggarakan di luar lokasi museum. Tujuan dari kegiatan pameran ini untuk meningkatkan apresiasi dan pengetahuan masyarakat daerah setempat terhadap aspek-aspek budaya yang di pamerkan. Waktu penyelenggaraan Pameran Keliling minimal berlangsung selama antara 3 -10 hari.
2. Pameran Regional
adalah pameran yang diselenggarakan oleh beberapa museum di tingkat regional di seluruh Indonesia dengan mengetengahkan suatu thema yang bersifat nasional.
3. Pameran Nasional
adalah pameran yang diselenggarakan oleh beberapa museum di tingkat regional di seluruh Indonesia dengan mengetengahkan suatu thema yang bersifat nasional.

Selain semua yang disebutkan diatas, di museum ini juga sering diadakan seminar dan kegiatan yang mendukung lainnya seperti workshop anyaman, pameran kain nusantara  ngabuburit di museum bahkan menjadi lokasi untuk latihan tarian dan kesenian daerah.

Jam Kunjungan

Senin-Jum’at : 08.00-15.30 WIB
Sabtu-Minggu : 08.00-15.30 WIB
HARI RAYA/LIBUR NASIONAL TUTUP

http://museum-ina.blogspot.com/
http://www.sribadugamuseum.com/

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: