Curug Sanghiyang Taraje ( Garut )

Curug = air terjun, sedang taraje (bahasa sunda) artinya ‘Tangga’, curug ini bentuknya seperti taraje, dengan tinggi kurang lebih 80 m-an (ada yang bilang 75, 83 dan 90 m), curug ini indah banget dan masih bisa masuk kategori kekayaan alam yang masih perawan.

Asal mula kenapa dinamai curug Sanghyang Taraje karena masih ada kaitannya dengan legenda salah satu anaknya Prabu Siliwangi dari kerajaan Pajajaran, yaitu Kian Santang, yang hendak mengambil bintang untuk Dayang Sumbi melewati curug ini, maka dinamailah curug ini Sanghyang Taraje. Dan konon juga, di area curug ini Kian Santang menyimpan salah satu benda berharganya dan dijaga oleh ular yang sangat besar, dan konon lagi, penduduk sekitar kadang masih suka ngeliat penampakan dari ular besar tersebut…Wallahu ‘alam ya..

Lokasi curug berada di wilayah Pakenjeng Kab. Garut (tepatnya desa Kombongan-Pamulihan) , cukup terisolir, padahal pemandangannya bagus banget…lokasi yang berada di ketinggian 460-an dpl, bisa ditempuh kurang lebih 2 jam dari kota Garut menuju Bungbulang/Pakenjeng, kondisi jalannya bisa dibilang cukup baik, meski ga bagus2 amat, tapi sepanjang perjalanan bakal disuguhin keindahan perkebunan teh dan undakan2 sawah khas tatar Priangan.

Dari desa terakhir, lebih baik jalan kaki menuju lokasi curugnya, karena kalo pake kendaraan roda 4 (itupun musti yang 4wd), kondisi jalan curam, berbatu dan sempit cukup beresiko.

Ada 3 tanjakan-turunan yang cukup curam (ada juga yang panjang) dengan kondisi jalan yang cukup sempit (hanya masuk 1 mobil aja) dan licin apabila setelah diguyur hujan, belom lagi kadang ada yang disebelahnya langsung jurang.

Kalo pake motor, ato pake ojeg , bisa langsung berhenti dekat pos terakhir (yang terbengkalai), dari pos ini ke lokasi curug bisa ditempuh dengan 10 menit jalan kaki saja, itupun udah sangat maksimal. Di lokasi sekitar curug terlihat kalo lokasi ini pernah dikelola, paling tidak dicoba untuk jadi lokasi wisata, keliatan dari ada bangunan yang tampaknya bekas wc umum yang kini udah sangat terbengkalai, tanah lapang pun nyaris tidak ada karena sekarang udah ketutup sama rerumputan yang meninggi dan memenuhi area sekitar curug.

Antisipasi perubahan kondisi cuaca yang cepat berubah jelas musti dilakuin, misalnya jas hujan, kalo bukan libur lebaran, jangan harap di lokasi ini ada yang jualan..dan warung pun jauh juga…jadi mending logistik udah bawa sendiri aja biar ga kelaparan dan kehausan.

Sayang memang, keindahan curug ini tidak begitu terekspos karena dukungan sarana, terutama jalan, kurang memadai…tapi untuk dapetin suasana mistis curug sanghyang Taraje sih, petualangan foto ini layak buat dicoba.

http://dhafiejournal.wordpress.com/

, , , ,

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: